Kisah Nabi Adam as
Adam (juga disebut Adem; bahasa arab: آدم) merupakan salah satu tokoh terpenting dalam sejarah umat Islam, karena diyakini sebagai manusia pertama dan juga nabi pertama. Kaum muslim memandang peran nabi Adam as sebagai Bapak Umat Manusia dengan penuh rasa hormat. Demikian pula dengan Hawa istrinya, sebagai "Ibu Umat Manusia". Bagi kaum muslim nabi Adam as merupakan nabi pertama, sebagaimana Al-Qur'an menyatakan bahwa semua nabi mengajarkan ajaran yang sama, yakni penyerahan diri kepada Allah. Kisahnya diceritakan dalam Al Qur'an dalam banyak surah.
Penciptaan Nabi Adam as
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS Al Hijr 26)
Menurut riwayat Al-Qur'an, Allah menciptakan nabi Adam as dari segumpal tanah liat kering dan lumpur hitam yang dibentuk sedemikian rupa, lalu ditiupkanlah ruh kedalamnya sehingga ia menjadi manusia sempurna.
Nabi Adam as Manusia Pertama Bukan Mahluk Pertama
Nabi Adam as bukanlah mahluk pertama yang diciptakan Allah. Sebelumnya Allah telah menciptakan mahluk yang lain seperti malaikat, jin, hewan, tumbuhan dan lain-lain. Menurut syariat Islam, manusia tidak diciptakan di bumi, melainkan diturunkan ke muka bumi. Allah menjadikan manusia sebagai Khalifah (pemimpin/pengganti/penerus) di muka bumi.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS Al-Baqarah: 30)
Khalifah tidak hanya berarti pemimpin melainkan juga pengganti/penerus. Dan sebagai pengganti/penerus tentu ada mahluk lain yang digantikan manusia. Allah tidak menyatakan sebagai pengganti manusia sebelumnya, tapi pengganti makhluk yang telah membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi, suatu hal yang menjadi penyebab kegusaran para malaikat.
Siapakah/Apa Mahluk Yang Digantikan Oleh Nabi Adam as (Manusia)?
Siapakah mahluk yang dimaksud oleh malaikat sebagai pembuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi? Ahli arkelogi menyatakan bahwa sebelum manusia memang ada mahluk lain seperti manusia karakteristik namun dengan karakterisik yang sangat primitif dan tidak berbudaya. Volume otak mereka kecil dan kemampuan berbahasa mereka relatif sederhana. Tidak banyak suara vowel yang mampu mereka bunyikan. Kelompok mahluk ini dinamakan Neanderthal.
Sedangkan Al Quran menjelaskan bahwa mahluk sebelum manusia adalah bangsa jin.
Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS Al Hijr:27)
Para ahli mufassirin. kemudian mengaitkan mahluk yang diungkapkan oleh ahli arkeologi dengan pengetahuan mereka. Ibnu Jazir dalam kitab tafsir Ibnu Katsir: "Yang dimaksud dengan makhluk sebelum Adam diciptakan adalah Al Jan yang suka berbuat kerusuhan."
Thawus al-Yamani seorang perawi hadits, salah satu penghuni sekaligus penguasa/pemimpin di muka bumi (sebelum nabi Adam) adalah dari golongan jin.
Juga ada pendapat bahwa sebelum nabi Adam telah ada 3 umat. Dua dari bangsa jin, sedangkan yang ketiga bukan dari golongan jin, karena mereka berdarah dan berdaging.
Wujud Nabi Adam as
Nabi Adam as diperkirakan berumur 930 tahun - 1000 tahun (sekitar 3760-2830 SM). Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad, tinggi nabi Adam as adalah 60 hasta (27,432 meter).
Gambaran nabi Adam as jauh sekali dari gambaran para arkeolog terhadap manusia purba. Nabi Adam as merupakan manusia sempurna yang berjalan tegak dengan kedua kakinya, berpakaian menutup aurat, memilki kemampuan berbahasa yang fasih dengan jutaan kosa kata. Nabi Adam as juga merupakan nabi pertama yang menerima wahyu dari Allah dengan syariat khusus untuk manusia saat itu.
Nabi Adam as juga memiliki kecerdasan tingkat tinggi sesuatu yang tak dimiliki oleh manusia purba gambaran para arkeologi penganut teori Darwin.
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (QS Al-Israa':70)
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS At-Tiin:4)
Karena kemuliaan dan kecerdasan yang dimiliki manusia itu, dengan perintah Allah seluruh malaikat bersujud (memberi penghormatan) kepada nabi Adam as.
Keluarga Nabi Adam as
Untuk mendampingi, menjadi teman hidup, menghilangkan rasa kesepian, dan melengkapi fitrahnya untuk menghasilkan keturunan, Allah menciptakan Hawa. Hawa diciptakan dari tulang rusuk kiri nabi Adam as saat nabi Adam as berusia 130 tahun. Menurut kisah ulama, Hawa diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri saat nabi Adam as sedang tidur hingga saat beliau as terjaga.
Anak-anak nabi Adam as dengan Hawa dilahirkan secara kembar. Yakni seorang bayi laki-laki dan seorang bayi perempuan. Nabi Adam as memiliki 40 anak kembar. Berikut ini daftar beberapa anak-anak nabi Adam as menurut Ibnu Humayd, Salamah, Ibnu Ishaq:
Cayn dan saudara perempuannya
Abel dan Labuda
Ashut dan saudara perempuannya
Seth dan Hazura
Ayad dan saudara perempuannya
Balagh dan saudara perempuannya
Athati dan saudara perempuannya
Tawbah dan saudara perempuannya
Darabi dan saudara perempuannya
Hadaz dan saudara perempuannya
Yahus dan saudara perempuannya
Sandal dan saudara perempuannya
Baraq dan saudara perempuannya
Menurut Ibnu Abi Hatim dari Urwah bin Al Zubayr bahwa Wadd, Suwa, Yaghuth, Ya’uq dan Nasr adalah termasuk anak nabi Adam as. Wadd adalah anak yang tertua dan yang paling saleh.
Nabi Adam as lalu menikahkan anak laki-laki dengan anak perempuan yang tak sekembar dengannya. Berikut ini daftar beberapa anak nabi Adam as yang dinikahkan:
Syits/Seth kembar Azura
Habil/Abel kembar Labuda/Abudah
Qabil/Qhabil kembar Qalima/Iqlima
Pengetahuan Nabi Adam as
Seperti yang disebut diatas, nabi Adam as merupakan manusia sempurna yang memiliki kecerdasan tingkat tinggi. Untuk menghilangkan keraguan yang dimiliki malaikat bila manusia dikhawatirkan akan berbuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi, Allah mengajarkan nama-nama benda yang ada di alam semesta kepada Nabi Adam as.
Kepada malaikat Allah menanyakan nama-nama benda yang berada di depan mereka. Para malaikat mengakui ketidaksanggupan mereka. Mereka mengatakan tidak mengetahui sesuatupun kecuali apa yang telah diajarkan-Nya.
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!"
Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (QS Al-Baqarah: 31-33)
Nabi Adam as lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama benda itu kepada para malaikat. Setelah itu berfirmanlah Allah kepada mereka bahwa hanya Dialah yang mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui segala sesuatu yang nampak maupun tidak nampak.
Kesombongan Iblis
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud* (QS Al-Hijr: 29)
*sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.
Saat semua mahluk penghuni surga bersujud (memberi hormat) kepada nabi Adam as. Iblis dari golongan Azazil (bangsa jin) membangkang dan enggan mematuhi perintah-Nya. Sebab Iblis merasa dirinya lebih mulia, lebih utama, dan lebih agung dari Adam. Iblis diciptakan dari api sedangkan nabi Adam hanya dari tanah liat dan lumpur.
Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?"
Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk"
Allah berfirman: "Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk,
dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat".
Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.
Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, (QS Al-Hijr: 32-37)
Kesombongan Iblis harus dibayar dengan mahal. Allah murka dan menghukum iblis dengan mengusirnya dari surga, mengeluarkannya dari barisan malaikat dan disertai kutukan dan laknat yang melekat hingga kiamat kelak. Iblis juga dijamin akan menjadi penghuni neraka yang abadi. Iblis menerima hukuman tersebut dan memohon kepada-Nya agar diberi tangguh.
Iblis menerima hukuman itu. Tak bersyukur atas pemberian jaminan dari Allah (karena mendapatkan tangguh), iblis mengancam akan menyesatkan nabi Adam as hingga ia terusir dari surga. Iblis juga bersumpah akan membujuk anak cucu nabi Adam as untuk meninggalkan jalan yang lurus. Allah kemudian berfirman bahwa iblis tidak akan sanggup menyesatkan hamba-Nya yang beriman dengan sepenuh hati.
Tipu Daya Iblis
Setelah dilaknat Allah, Iblis mulai menjalankan aksinya untuk menyesatkan nabi Adam as. Iblis berkata kepada nabi Adam as bahwa dirinya kawan mereka. Segala cara dilakukan iblis agar nabi Adam as terbujuk. Iblis membisikan untuk memakan buah di pohon terlarang. Iblis mengatakan bahwa memakan buah itu akan membuat mereka hidup kekal dan abadi.
(Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. (QS Al-A'raf: 19)
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon dan kerajaan yang tidak akan binasa?"
Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (QS Thaahaa: 120-121)
Akhirnya nabi Adam as (dan Hawa) termakan bujuk rayu iblis. Dimakanlah buah dari pohon terlarang tersebut. Akibatnya mereka menjadi telanjang aurat mereka terlihat. Karena merasa malu, segera saja nabi Adam as (dan Hawa) mencabuti daun dari pohon-pohon surga untuk menutupi aurat mereka. Nabi Adam as segera sadar, bila mereka telah terbujuk rayuan setan dan mendapat dosa besar.
Nabi Adam Diturunkan Ke Bumi
Kejadian itu membuat nabi Adam as (dan Hawa) dihukum turun ke bumi. Mereka lalu bertaubat kepada Allah dan taubat mereka diterima Allah.
Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS Thaahaa: 122-123)
Penyesalan Dan Kesedihan Nabi Adam as
Nabi Adam as menyesali perbuatan dosa besarnya.
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS Al-A'raf: 23)
Dalam suatu riwayat hadits marfu Rasulullah saw kemudian menggambarkan kesedihan nabi Adam as. Dari Buraidah ra,
Rasulullah saw bersabda, "Jika saja tangisan nabi Daud as digabungkan dengan seluruh tangisan ahli bumi ini, lalu dibandingkan dengan tangisan nabi Adam as, maka itu tidak akan pernah dapat sebanding dengan tangisan nabi Adam as." (HR. Thabrani dalam kitab Al-Ausath, para perawinya dipercaya).
Umur Nabi Adam as
Menurut silsilah Kitab Kejadian (kitab pertama dari Alkitab dan kitab Taurat Musa atau Tanakh), nabi Adam as meninggal dunia pada usia 930 tahun. Sedangkan menurut hadits riwayat oleh At Tirmidzi, umur nabi Adam as adalah 1000 tahun.
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw., ia bersabda : Ketika Allah menciptakan Adam Dia mengusap punggungnya maka jatuhlah setiap jiwa dari punggungnya. Dialah yang menciptakannya sampai hari kiamat. Dia menjadikan sinar cahaya di antara kedua mata setiap manusia. Kemudian Tuhan menampakkan mereka atas Adam. Lalu Adam bertanya : "Wahai Tuhanku, siapakah mereka?”. Allah berfirman: "Mereka adalah keturunanmu". Adam heran terhadap kecemerlangan apa yang di antara kedua matanya. Ia bertanya : "Wahai Tuhanku, siapakah ini ?". Allah berfirman : "Ini seseorang dari umat yang akhir dari keturunanmu, namanya Daud". Ia berkata : "Berapakah Engkau beri umur ?". Allah berfirman : "Enam puluh tahun". Ia berkata : "Wahai Tuhanku, tambahkanlah 40 tahun dari umurku". Ketlka umur Adam telah habis, datanglah malaikat maut (malaikat pencabut nyawa). Adam berkata : "Bukankah kamu telah memberikannya kepada anakmu Daud ?". Beliau bersabda : "Lalu Adam menentangnya, maka keturunannya menentang. Adam lupa, maka keturunannya lupa, dan Adam salah maka keturunannya Salah". (Hadits ditakhrij oleh At Tirmidzi).
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : "Ketika Allah menciptakan Adam dan telah meniupkan ruh padanya, Adam bersin, lalu ia mengucapkan : "Alhamdulillah (segala puji bagi Allah)", ia memuji Allah dengan seizinNya. Lalu Allah berfirman kepadanya : "Rahimakallah ya Adam (Hai Adam, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu). Pergilah kepada para malaikat itu yakni yang duduk-duduk dari mereka, dan ucapkanlah : "Assalamu'alaikum (semoga kesejahteraan tetap atasmu)". Mereka menjawab : "Wa'alaikas salam wa rahmatullah (semoga kesejateraan dan rahmat Allah atasmu)". Kemudian ia kembali kepada Tuhannya. Allah berfirman: "Inilah penghormatanmu dan penghormatan di kalangan anak cucumu". Lalu Allah berfirman kepadanya dengan tergenggam kedua belah tanganNya: "Pilihlah mana yang kamu sukai?". Adam menjawab saya memilih tangan kanan TuhanKu". Dua tangan Tuhanku yang kanan adalah penuh berkah, kemudian dibentangkannya, tiba-tiba di sana ada Adam dan keturunannya. Adam berkata : "Wahai Tuhanku, apakah itu", Allah berfirman : "Mereka adalah keturunanmu". Masing-masing dari mereka telah tercatat umurnya diantara dua matanya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang paling bersinar atau termasuk orang yang bersinar dari mereka. Adam berkata : "Wahai Tuhanku, siapakah ini?". Allah berfirman: "Ini adalah anakmu Daud, telah Aku catat umurnya 40 tahun". Adam berkata : "Wahai Tuhanku, tambahlah umurnya". Allah berfirman : "Itulah vang telah Aku catat baginya". Adam berkata : "Wahai Tuhanku, aku memberikan 60 tahun dari umurku untuknya". Allah berfirman : "Kamu dan itu". Kemudian Allah menempatkannya di sorga selama yang dikehendaki Allah, kemudian diturunkan dari padanya dan Adam menghitung (umur = pen) dirinya. Beliau bersabda : "Malaikat maut (malaikat pencabut ruh) datang kepadanya, lalu Adam berkata : "Kamu tergesa-gesa, saya telah dicatat berumur 1000 tahun". Malaikat maut menjawab: "Memang, tetapi kamu telah memberikan kepada anakmu Daud 60 tahun". Lalu Adam menentang, maka keturunannya pun menentang. Adam lupa maka keturunannya pun lupa. Beliau bersabda : Sejak itu, diperintahkan untuk membuat catatan dan saksi-saksi". (Hadits ditakhrij oleh Turmudzi).
Minggu, 22 Januari 2012
Kisah Nabi Adam As
Surat Dari Gaza
“Untuk saudaraku di Indonesia, mengapa saya harus memilih dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?
Di saat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.
Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama’ah haji asal Gaza sejak tahun 1987 sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian. Wah pasti uang kalian sangat banyak, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang memnunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Subhanallah.
Wahai saudaraku di Indonesia,
Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa saya dan kami yang ada di Gaza ini, tidak dilahirkan di negri kalian saja. Pasti sangat indah dan mengagumkan. Negri kalian aman, kaya, dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negri kalian.
Pasti ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapoatkan di toko-toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.
Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku, tidak seperti di negri kami ini. Tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah. Sehingga istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, ya di atas mobil saudaraku.!
Susu formula bayi adalah barang langka di Gaza sejak kami diblokade 2 tahun yang lalu, namun istri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga 2 tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar Asi mereka, istri kami rela minum air rendaman gandum.
Namun, mengapa di negri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit-parit, selokan, dan tempat sampah. Itu yang kami dapat dai informasi di televisi.
Dan yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negri kalian adalah negri yang tertinggi kasus aborsinya untuk wilayah Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina seperti itu? Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami disini.
Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami disini.
Memeang hampir setiap hari di Gaza sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati. Namun, bukanlah di selokan-selokan atau got-got apalagi di tempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid karena serangan roket tentara Israel!
Kami temukan mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah aset perjuangan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negri ini.
Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember 2009 kemarin, saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 di antaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!
Wahai saudaraku di Indonesia,
Negri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena sulit mencari rizki disana? Apa negri kalian diblokade juga?
Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade. Sungguh kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bulan ini belum menerima gaji bulanan saya. Tetapi Allah SWT yang akan mencukupkan rizki untuk kami.
Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya, mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku.
Dan Perdana Menteri kami, Ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut.
Wahai saudaraku di Indonesia,
Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negri antum (anda). Seperti yang diceritakan teman saya, program pengajian kalian pasti bagus, banyak kitab mungkin yang kalian yang telah baca. Dan banyak buku-buku pasti sudah kalian baca. Kalian pun bersemangat kan? Itu karena kalian punya waktu.
Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini. Satu jam, ya satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqah. Setelah itu kami harus terjun ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami.
Kami disini sangan menanti-nantikan saat halaqah tersebut walau hanya satu jam. Tentu kalian lebih bersyukur. Kalian punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum, dan takaful disana.
Halafalan antum pasti lebih banyak daripada kami. Semua pegawai dan pejuang HAMAS disini wajib menghapal Surah Al-Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?
Akhir Desember kemarin, saya menghadiri acar wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia merupakan diantara 1000 anak yang tahun ini menghafal Al-Qur’an dan umurnya baru 10 tahun. Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal Al-Qur’an ketimbang anak-anak kimi disini. Di Gaza tidak ada SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) seperti di tempat kalian yang menyebar seperti jamur di musim hujan. Disini anak-anak belajar diantara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun kurma. Ya, di tempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi suara setoran hafalan Al-Qur’an mereka bergemuruh dianatara bunyi-bunyi senapan tentara Israel. Ayat-ayat jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung mereka rasakan.
Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia. Kami menyaksikan aksi demo-demo kalian disini. Subhanallah, kami sangat terhibur. Karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.
Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini, termasuk kalian yang di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan , saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhwah kalian kepada kami. Doa-doa dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.
Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telpon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi. Salam untuk semua pejuang-pejuang Islam dan ulama-ulama kalian.
Abdullah Al Ghaza
SEJARAH ISLAM INDONESIA
Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).
